Setiap orang beriman yang menginginkan keridloan Alloh, maka akan selalu mengikatkan dirinya (pemikirannya, perasaanya dan setiap amal perbuatannya) pada hukum syara’ , yakni berdasarkan Al Qur’an & As Sunnah (bukan azas manfaat atau pertimbangan logika semata). Demikian pula dalam persoalan memilih pemimpin.
Maka sangat tepat kalau kita berpedoman pada petunjuk Alloh swt, Dzat Maha Pengatur Kehidupan ini. Berikut ini berberapa hujjah yang mengingatkan kita, apa akibatnya kalau kita tidak hati-hati atau salah memilih pimpinan:
1.QS al-Ahzab : 66-68
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikan kami taat kepada Allah dan taat kepada Rosul. Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dg kutukan yg besar.
Hikmah yang bisa kita renungkan dari ayat ini adalah sebuah peringatan bahwa Nasib manusia yang memberikan loyalitasnya pada pemimpin yang tidak mentaati Alloh dan Rosul-Nya (Menerapkan syariat Islam berdasarkan Al Qur’an & As Sunnah) maka adzab Alloh telah menanti, muka mereka akan dibolak-balikkan sambil dibakar api neraka (mungkin seperti sate) dan saking kesalnya mereka meminta kepada Alloh agar pemimpin mereka diberi azab dua kali lipat dibandingkan mereka. Na’udzubillah…
2.QS al-Furqan : 27-29
Dan (ingatlah) hari ketika orang dzalim menggigit dua tangannya (tanda menyesal) seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an ketika al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.
3.QS al-Baqoroh: 166-167
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Alloh memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.
Berdasarkan Ayat di atas, maka yang akan terjadi di akhirat adalah penyesalan bagi siapapun yang telah memilih, mendukung dan mentaati pemimpin atau para elit yang telah menyesatkan mereka, yaitu yang tidak menjalankan syari’at Alloh.
Demikian pula antara pemimpin dan pengikutnya yang menyimpang dari hukum Alloh itu, di akherat nanti akan saling tuduh atau berlepas diri.
Realitasnya saat ini mereka yang telah dipilih oleh rakyat ternyata tidak menjalankan hukum-hukum sesuai dengan syari’at Alloh & Rosul-Nya, mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan sebaliknya mengharamkan apa yang dihalalkan Alloh, mendzalimi rakyat yang telah sangat kesusahan serta memperkaya diri dan keluarganya. Maka, sungguh malang nasib orang-orang yang memperkuat kekuasaan mereka, yaitu siapapun yang memilih atau loyal kepada type pemimpin seperti ini.
Lalu, apakah masih ada, pemimpin yang akan menjalankan hukum-hukum Alloh secara kaffah dan mengurus rakyatnya agar selamat dunia-akhirat..?, seperti yang dicontohkan oleh Rosul dan Khulafaur Rosyidin…?
Inilah tugas kita kaum muslimin untuk menyeru wajibnya para pemimpin atau para elit agar menerapkan aturan yang diturunkan dari Alloh swt, bukan mengambil hukum buatan manusia semisal Demokrasi. Dan jalan terbaik bagi kita adalah sikap berhati-hati dan tunduk pada pedoman Alloh swt sesuai ayat-ayat di atas, yaitu menghindarkan diri untuk memilih pemimpin yang tidak menerapkan hukum Alloh, agar tidak menyesal di akhirat nanti.
Sabda Rosulullah saw:
“Akan datang kepada kalian para penguasa, mereka mengucapkan janji-janji yang tidak mereka kerjakan dan melakukan apa yang mereka tidak ketahui. Barangsiapa yang menjadi penasihat, pembantu dan pemerkuat kekuasaannya, maka mereka akan binasa dan membinasakan.” (HR.Thobroni). ***