Kesombongan Menghancurkan Diri

Kesombongan merupakan salah satu kelemahan utama seorang manusia dan bisa terjadi pada siapa saja, kesombongan merupakan tabi’at syaithon yang diawali saat mereka menolak sujud kepada Adam as ketika diperintah Alloh swt.
Dalam keseharian kita sering mendengar, seorang suami marah, memaki atau memukul anak dan istrinya karena merasa dia yang memberikan makan mereka. Seorang atasan melakukannya dengan mengancam bawahannya bahwa karirnya tergantung padanya. Penguasa melakukannya dengan mengancam para pengkritik kebijakannya. Seorang haji melakukannya dengan menyatakan bahwa keislamannya telah sempurna dengan berhaji, padahal Islam tidak hanya sekedar rukun Islam. Seorang Ustadz juga bisa melakukannya dengan mengatakan: “Itu orang kalau bukan karena saya nggak bakalan tobat!” Bahkan seorang pengemis-pun dapat melakukannya dengan membuang recehan yang kita berikan.

Sesungguhnya kalau kita merenungkan diri kita sendiri tidak ada yang patut disombongkan. Kita diciptakan dengan setetes “Air yang hina”, kita sendiri mungkin jijik memegang atau melihatnya. Mungkin semut saja yang senang mengerubutinya.
Alloh swt berfirman:“(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina (mani)”. (Qs. As-Sajdah [32]: 7).
Setelah kita utuh menjadi manusia, semua lubang pada diri kita merupakan tempat keluarnya kotoran; hidung, mata, telinga, mulut dan kedua lubang farji kita. Seolah-olah didalam tubuh kita dipenuhi oleh kotoran. Begitu juga setelah kita mati, jika dibiarkan seminggu saja menimbulkan bau busuk menyengat dan semua orang akan menutup hidungnya. Setelah dikuburkan akan dinikmati oleh cacing tanah dan belatung, bahkan sebagian orang takut melewati kuburan kita.
Walhasil, Tidak ada yang patut disombongkan di dunia ini, harta, tahta (jabatan), wanita (keluarga), kecerdasan dan kecantikan merupakan kenikmatan sementara yang dipinjamkan Alloh swt kepada kita dan dapat diambil sewaktu-waktu oleh Alloh swt.
Begitu banyak orang kaya dengan sekejap menjadi miskin karena tertimpa musibah banjir, kebakaran atau perampokan. Banyak pejabat penting dalam sekejap menjadi warga biasa dan dicerca karena dilengserkan atau aibnya terungkap. Banyak keluarga bahagia tiba-tiba menjadi sengsara karena keluarganya (anak, istri atau suami) meninggal atau bercerai. Betapa banyak orang yang cerdas tetapi umur 60 tahun sudah pikun. Sekian banyak artis cantik tetapi di usia senja wajahnya mulai keriput. Sangat mudah bagi Alloh swt untuk memberi atau mencabut kenikmatan itu.
Salah satu ciri kesombongan adalah orang-orang yang tidak mau bersyukur atas nikmat yang diberikan Alloh swt kepadaNya. Kenikmatan itu sesungguhnya tidak melulu kekayaan semata, tetapi kesehatan, waktu luang, rezeki yang halal, rumah dekat mesjid, lingkungan aman, tetangga/teman yang baik, keluarga yang harmonis, anak yang cerdas atau istri sholihah, semuanya kenikmatan yang sering terlupakan oleh kita.
Orang-orang yang sombong mereka tidak mau bersyukur atas nikmat yang diberikan Alloh swt, mereka merasa bahwa semua kesuksesan yang diperolehnya merupakan hasil jerih payahnya semata. Dia lupa bahwa semua yang dia peroleh merupakan pemberian Alloh swt, dari Dzat Yang Maha Rohman dan Rohim. Rasa syukur kepada Alloh swt dilakukan dengan menjalankan kewajiban ibadah, meninggalkan larangan/kemaksiaatan dan mematuhi semua yang diperintahkan Allo swt.
Ciri kesombongan yang lain adalah menolak kebenaran yang disampaikan, sebagaimana sabda Nabi saw:
Sesungguhnya Alloh itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. [HR Muslim].
Alloh swt mengecam orang-orang yang berjalan dengan sombong di muka bumi, menolak kebenaran dan tidak mau bersyukur,
“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Qs. Luqman: 18).
“Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertawakalah kepada Allah”. Bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (Qs. Al-Baqarah: 206).
Akhirul kalam, tidak ada yang patut disombongkan di dunia ini karena semuanya titipan Alloh swt yang dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik seluruh alam. Dengan kesombongan, maka kita telah menghancurkan diri sendiri, kita dibenci oleh sesama manusia dan di akhirat menjadi orang yang merugi.

Tulis sebuah Komentar