Rosulullah saw bersabda:
Ingatlah, setiap diri kalian adalah penggembala; setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban atas yang digembalakannya. Karena itu, seorang penguasa yang menjadi pemelihara atas rakyat adalah penggembala; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. (HR Bukhari).
Konsep kepemimpinan yang ditawarkan oleh Rosulullah ternyata cukup sederhana, namun sarat dengan makna: yakni Pemimpin itu di-ibaratkan seorang penggembala. Pada galibnya penggembala itu semestinya bertanggung jawab agar hewan-hewan yang digembalakannya terpelihara dengan baik, cukup makan dan minum, sehat, gemuk, serta terjaga dari binatang-binatang buas. Sebab, ia bakal ditanya oleh tuannya tentang hewan-hewan yang digembalakannya itu
Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau ada penggembala yang cuek dengan hewan-hewan piaraannya. Atau dia lebih mengutamakan dirinya sendiri, sementara hewan-hewan yang menjadi tanggungjawabnya kehausan, kelaparan, terancam, cedera, bahkan mati.
Kepemimpinan, menurut hadits di atas, adalah konsep pemeliharaan urusan rakyat yang tidak hanya menyangkut dunia, tetapi juga akhirat. Sebuah Amanah, pasti bakal dipertanggungjawabkan nanti di hari pembalasan. Maka, kalau tidak dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai petunjuk Al Qur’an dan Sunnah-Nya, pada akhirnya akan menjadi kehinaan dan penyesalan.
Dalam riwayat yang lain, Nabi saw menegaskan:
“Bahwa amanah itu, sesungguhnya ia di hari Kiamat akan menjadi kerugian dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang haq, serta menunaikan kewajiban yang terpikul di atas pundaknya”
Ajaran Islam memandang bahwa pemimpin itu bukanlah orang yang sibuk menghitung dan menikmati berbagai fasilitas yang diterima dari uang rakyat lantaran kedudukannya. Bukan pula orang yang menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri dan keluarganya. Dia pun tidak menjadikan jabatan sebagai sarana untuk mengokohkan kekuasaan diri dan kelompoknya serta mengeksploitasi rakyat.
Dari segi hak atas kekayaan, pemimpin sama saja dengan rakyat, tidak memiliki kelebihan apa pun. Dia hanya mendapatkan kompensasi yang layak sebagai ganti atas seluruh waktu dan perhatian yang dia curahkan untuk rakyat.
Alkisah, pernah suatu ketika Khalifah Umar bin Khothob ditanya oleh seorang rakyatnya tentang baju yang dikenakannya yang berasal dari pembagian kain dari Yaman untuk seluruh rakyat. Maka amirul mukminin itu menyuruh anaknya, Abdullah bin Umar memberikan klarifikasi. Abdullah pun menjelaskan:
“Sungguh ayahku [khalifah] mendapatkan bagian yang sama dengan kita semua, namun karena tubuhnya yang begitu besar, maka bagianku kuberikan padanya, agar dia bisa memakainya”
Pemimpin yang amanah justru sibuk berfikir dan bertindak agar rakyatnya dapat hidup cukup sandang, pangan, papan, serta terjamin kesehatan, pendidikan dan keamanannya.
Suatu ketika Khalifah Umar berkata, “Kalau sekiranya ada seekor keledai jatuh tergelincir di suatu jalan di Irak, aku khawatir nanti Allah akan menanyaiku, mengapa aku tidak menyediakan jalan yang rata di sana ”
Kita semua sangat membutuhkan model pemimpin seperti ini. Wallohu a’lam***
Tanggung Jawab Pemimpin
November 25, 2008 pada 2:14 am (Uncategorized)