<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>persimpanganduniaakherat</title>
	<atom:link href="http://ainkciamis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ainkciamis.wordpress.com</link>
	<description>cerita diantara hidup dan mati</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Nov 2008 08:03:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ainkciamis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6e26fea6e9b703ab6f69b3e7486726b5?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>persimpanganduniaakherat</title>
		<link>http://ainkciamis.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mencegah Kemaksiyatan</title>
		<link>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/mencegah-kemaksiyatan/</link>
		<comments>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/mencegah-kemaksiyatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 07:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ainkciamis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ainkciamis.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Setiap perbuatan yang melanggar hukum syara’ adalah kemaksiatan. Dan setiap kemaksiatan pasti akan merugikan diri orang yang berbuat dan juga membahayakan diri orang lain.  Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori, Rosulullah meng-umpamakan Perbuatan Maksiat itu ibarat perbuatan melubangi kapal;
“Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Alloh adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=20&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setiap perbuatan yang melanggar hukum syara’ adalah kemaksiatan. Dan setiap kemaksiatan pasti akan merugikan diri orang yang berbuat dan juga membahayakan diri orang lain.  Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori, Rosulullah meng-umpamakan Perbuatan Maksiat itu ibarat perbuatan melubangi kapal;</p>
<p>“Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Alloh adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah perahu. Lalu, mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian lagi di bagian bawah. Bila ada orang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di atasnya. Sehingga, orang yang di bawah itu berkata, &#8216;Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain yang di atas.&#8217; Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari).<br />
<span id="more-20"></span><br />
Peminum khamer, pezina, pencuri, pejudi, pelaku korupsi dan KKN, pelaku ketidak adilan, dan pelanggar hukum syara’ lainnya, jelas itu sebuah kemaksiatan. Dampak perbuatan itu akan dirasakan oleh orang lain.<br />
Maraknya tindak kriminal dan asusila, banjir yang melanda berbagai wilayah, kekeringan dan kebakaran hutan, adalah sebagian contoh akibat kesalahan manusia. Boleh jadi hanya sebagian manusia yang melakukan kemaksiatan itu, tetapi akibatnya banyak yang tidak berdosa, ikut menanggungnya.<br />
Berdasarkan hadits di atas, sangat jelas bahwa Islam tidak mengenal sikap individualis atau cuek bebek terhadap orang lain dan lingkungannya. Sikap individualis pada dasarnya akan membiarkan orang lain bebas berbuat melanggar batas-batas hukum Alloh. Tetapi sebaliknya, Islam mewajibkan amar makruf nahi munkar, sehingga setiap jiwa tidak menanggung derita dunia dan akhirat karena sebuah perbuatan maksiat seseorang. Alloh SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya:</p>
<p>“Dan jagalah dirimu dari bencana yg tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antaramu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfaal 25).</p>
<p>Menjaga batas-batas hukum Alloh atau ber-amar makruf nahi munkar sehingga &#8221;kapal&#8221; kehidupan bermasyarakat tidak tenggelam karena tidak seorang pun melubanginya, adalah perkara yang teramat penting. Lebih penting dari pada sekadar berdiam diri dan khusyuk berdoa sendirian di hadapan Alloh swt. Karena, Rosul saw besabda:</p>
<p>“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Alloh akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik di antara kalian berdoa (untuk keselamatan), maka doanya tidak akan dikabulkan.&#8221;<br />
(HR Al-Bazzar dan Thabrani) ***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ainkciamis.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ainkciamis.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ainkciamis.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ainkciamis.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ainkciamis.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ainkciamis.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ainkciamis.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ainkciamis.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ainkciamis.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ainkciamis.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=20&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/mencegah-kemaksiyatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d7efdb879ff4e2e39712ce914b01a53?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ainkciamis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak Berputus Asa</title>
		<link>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tidak-berputus-asa/</link>
		<comments>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tidak-berputus-asa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 07:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ainkciamis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ainkciamis.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari di Kota Thoif, pada saat itu Rosulullah saw sedang melakukan upaya tholabun nusyroh (yaitu mencari pertolongan dan dukungan) kepada komunitas Thoif, dekat Makkah. Beliau mengharapkan mereka masuk Islam. Sementara itu, tekanan kaum kafir kepada kaum muslimin sangat berat karena penyebaran dakwah Islam di Makkah berkembang pesat.
Tetapi, upaya Rosulullah mengalami kegagalan. Bahkan sebagai balasannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=18&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Suatu hari di Kota Thoif, pada saat itu Rosulullah saw sedang melakukan upaya tholabun nusyroh (yaitu mencari pertolongan dan dukungan) kepada komunitas Thoif, dekat Makkah. Beliau mengharapkan mereka masuk Islam. Sementara itu, tekanan kaum kafir kepada kaum muslimin sangat berat karena penyebaran dakwah Islam di Makkah berkembang pesat.<br />
Tetapi, upaya Rosulullah mengalami kegagalan. Bahkan sebagai balasannya justru olok-olok anak-anak kecil dan orang-orang bodoh yang beliau terima. Mereka melempari Rosulullah dengan batu, diiringi cacian dan hardikan. Tak ada jalan lain kecuali menyelamatkan diri. Saat itu, Rosulullah terluka. Peluh menetes, napas yang tersengal-sengal, dan pakaian yang kotor serta kaki yang berdarah.<br />
<span id="more-18"></span><br />
Untunglah, Rosulullah sampai di sebuah kebun anggur milik dua orang lelaki musyrik, &#8216;Utbah dan Syaibah bin Robi&#8217;ah.<br />
Rosulullah memasuki kebun anggur itu, beristirahat dan berlindung dari kejaran orang-orang Thoif. Air mata Rosulullah saw menetes. Terasa pilu dan sangat menyedihkan. Diangkatnya kedua tangan menghadap langit, mengadukan keadaannya, seraya berucap:<br />
Ya Alloh, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta tidak berdayanya aku menghadapi manusia.<br />
Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara hamba-hamba yang pengasih, Engkau adalah Rabbnya orang-orang yang lemah dan juga Robbku.<br />
Kepada (siapa aku mengadu), apakah kepada Dzat yang membebaniku, atau kepada sesuatu yang jauh dan menerimaku dengan muka masam, ataukah kepada musuh? Sementara Engkau menguasakan perkaraku? Jika saja kemurkaan-Mu tidak menimpaku, tentu aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas untukku daripada kemurkaan-Mu yang akan Engkau timpakan kepadaku, atau Engkau tempatkan aku dalam kemurkaan-Mu.<br />
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang engkau hapus segala kegelapan dengan terbitnya (cahaya-Mu), dan Engkau selaraskan urusan dunia dan akhirat dengan baik di atasnya. Hanya untuk-Mu segala kerelaan hinga Engkau ridla. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama-Mu.<br />
Sementara itu, si pemilik anggur mendengar ada suara di kebunnya. Rasa ingin tahu menguasai rongga dada, tetapi tak ingin ia mengusik orang yang dirasanya asing tersebut. Sebaliknya, dia dengarkan dengan khusyuk apa yang diucapkan orang asing itu, yang tak lain Rosulullah saw. Dua orang ini terpesona dengan ucapan doa yang belum pernah didengarnya. </p>
<p>&#8216;Utbah dan Syaibah pun memberanikan diri mendekat dan bertanya tentang jatidiri Rosulullah serta meminta penjelasan mengenai hakikat dari ucapan doa yang beliau panjatkan. Singkat cerita, hasil dialog itu menjadikan dua lelaki musyrik pemilik kebun anggur itu menjadi muslim.<br />
Kisah hidup Rosul saw adalah hikmah abadi bagi kehidupan manusia. Sepenggal sejarah dakwah Rosulullah ini menyadarkan kita tentang semangat yang pantang menyerah, dan anti putus asa. Sedih, terluka, terhina, boleh saja, tetapi tidak berarti menyurutkan langkah dalam menyuarakan kebenaran, yaitu Islam.<br />
Tentu, seharusnya malu bagi kita, jika dalam kondisi biasa-biasa saja, atau bahkan dalam kondisi yang serba mudah, kita malas atau bahkan takut untuk menyampaikan kebenaran. Padahal Rosulullah memberi teladan yang sebaliknya.<br />
Maka sungguh amat dangkal orang yang berpikir dan menyatakan bahwa “saat ini menyampaikan yang haram saja susah, apalagi menyampaikan yang halal”.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ainkciamis.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ainkciamis.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ainkciamis.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ainkciamis.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ainkciamis.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ainkciamis.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ainkciamis.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ainkciamis.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ainkciamis.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ainkciamis.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=18&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tidak-berputus-asa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d7efdb879ff4e2e39712ce914b01a53?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ainkciamis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tegar Dalam Kebenaran</title>
		<link>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tegar-dalam-kebenaran/</link>
		<comments>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tegar-dalam-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 07:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ainkciamis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ainkciamis.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Abu Umamah Shuday r.a menyatakan bahwa Rosulullah saw bersabda:
&#8221;Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Alloh melebihi dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Alloh dan tetesan darah yg menetes sewaktu berjuang pada jalan Alloh. Adapun dua bekas itu, yaitu bekas luka sewaktu berjuang di jalan Alloh dan bekas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=15&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Diriwayatkan dari Abu Umamah Shuday r.a menyatakan bahwa Rosulullah saw bersabda:</p>
<p>&#8221;Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Alloh melebihi dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Alloh dan tetesan darah yg menetes sewaktu berjuang pada jalan Alloh. Adapun dua bekas itu, yaitu bekas luka sewaktu berjuang di jalan Alloh dan bekas dari menjalankan salah satu kewajiban-kewajiban Alloh&#8221;  (HR Turmuzi). </p>
<p>Saking pentingnya takut kepada Alloh tersebut, Rosulullah menyatakan, &#8221;Seseorang yang menangis karena takut kepada Allah itu tidak akan masuk neraka hingga air susu itu kembali ke dalam tetek. Debu yang menempel karena berjuang pada jalan Alloh itu tidak akan bisa berkumpul dengan asap neraka jahanam&#8221; (HR Turmuzi).<br />
<span id="more-15"></span><br />
Mengapa takut kepada Alloh swt memiliki kedudukan demikian tinggi? Sebab, takut kepada Alloh akan membangkitkan keberanian dan ketaatan luar biasa, sekalipun banyak ancaman menghadang. Di dalam hadis tersebut di atas Alloh menyejajarkan antara takut kepada Alloh dan jihad di jalan-Nya dan taat melaksanakan kewajiban.<br />
Ini menunjukkan betapa takut kepada Alloh terkait dengan ketegaran, serta melahirkan ketaatan. Mereka yang takut kepada Alloh swt akan tegar dalam menjalankan kebenaran.</p>
<p> &#8221;Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada gunung, pasti engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya berfikir&#8221; (QS Al-Hasyr: 21).</p>
<p>Inilah yang tecermin dalam diri Nabi. Suatu ketika Abu Jahal datang melarang Rosulullah sholat di sebelah Ka’bah. Namun, beliau tidak mempedulikannya, bahkan kembali mengulangi sholatnya di tempat yang sama. Ketika itu Abu Jahal mengancam hendak menginjak leher beliau ketika beliau sedang sujud.<br />
Namun, tidak ada seorang pun diantara para pemimpin Makkah, termasuk Abu Jahal, dapat menghentikan sikap Rosulullah itu. Padahal, saat itu beliau tidak memiliki banyak penolong ataupun pembela, apalagi persenjataan. Bekal beliau adalah keimanan yang penuh atas pertolongan Alloh dan ketakutan kepada Alloh bila menyalahi perintah-Nya.<br />
Saat diancam, dihalangi, dan disakiti, ketika tawaf, beliau menyatakan penuh ketegaran:</p>
<p>“Apakah kalian mau mendengarkan apa yang aku sampaikan, wahai kaum Quraisy? Demi nyawaku yang berada di tangan-Nya, aku ingatkan kalian bahwa suatu ketika nanti aku akan membunuh kalian” (dikutip dari Sirah Ibnu Hisyam  I, hal. 160). </p>
<p>Dalam peristiwa tersebut Rosulullah tidak tunduk pada para pemimpin Quraisy yang melarangnya taat pada Alloh Pencipta alam. Beliau sangat tegar dalam menjalankan kebenaran. Sikap inilah yang harus kita contoh, yakni Tegar Dalam Kebenaran, Tidak Kompromi Dengan Kebathilan..!***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ainkciamis.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ainkciamis.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ainkciamis.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ainkciamis.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ainkciamis.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ainkciamis.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ainkciamis.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ainkciamis.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ainkciamis.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ainkciamis.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=15&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tegar-dalam-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d7efdb879ff4e2e39712ce914b01a53?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ainkciamis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanggung Jawab Pemimpin</title>
		<link>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tanggung-jawab-pemimpin/</link>
		<comments>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tanggung-jawab-pemimpin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 04:44:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ainkciamis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ainkciamis.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Rosulullah saw bersabda:
Ingatlah, setiap diri kalian adalah penggembala; setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban atas yang digembalakannya. Karena itu, seorang penguasa yang menjadi pemelihara atas rakyat adalah penggembala; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.  (HR Bukhari).
Konsep kepemimpinan yang ditawarkan oleh Rosulullah ternyata cukup sederhana, namun sarat dengan makna: yakni Pemimpin itu di-ibaratkan seorang penggembala. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=12&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rosulullah saw bersabda:<br />
Ingatlah, setiap diri kalian adalah penggembala; setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban atas yang digembalakannya. Karena itu, seorang penguasa yang menjadi pemelihara atas rakyat adalah penggembala; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.  (HR Bukhari).<br />
Konsep kepemimpinan yang ditawarkan oleh Rosulullah ternyata cukup sederhana, namun sarat dengan makna: yakni Pemimpin itu di-ibaratkan seorang penggembala. Pada galibnya penggembala itu semestinya bertanggung jawab agar hewan-hewan yang digembalakannya terpelihara dengan baik, cukup makan dan minum, sehat, gemuk, serta terjaga dari binatang-binatang buas. Sebab, ia bakal ditanya oleh tuannya tentang hewan-hewan yang digembalakannya itu<br />
Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau ada penggembala yang cuek dengan hewan-hewan piaraannya. Atau dia lebih mengutamakan dirinya sendiri, sementara hewan-hewan yang menjadi tanggungjawabnya kehausan, kelaparan, terancam, cedera, bahkan mati.<br />
<span id="more-12"></span><br />
Kepemimpinan, menurut hadits di atas, adalah konsep pemeliharaan urusan rakyat yang tidak hanya menyangkut dunia, tetapi juga akhirat. Sebuah Amanah, pasti bakal dipertanggungjawabkan nanti di hari pembalasan. Maka, kalau tidak dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai petunjuk Al Qur’an dan Sunnah-Nya, pada akhirnya akan menjadi kehinaan dan penyesalan.<br />
Dalam riwayat yang lain, Nabi saw menegaskan:<br />
“Bahwa amanah itu, sesungguhnya ia di hari Kiamat akan menjadi kerugian dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang haq, serta menunaikan kewajiban yang terpikul di atas pundaknya”<br />
Ajaran Islam memandang bahwa pemimpin itu bukanlah orang yang sibuk menghitung dan menikmati berbagai fasilitas yang diterima dari uang rakyat lantaran kedudukannya. Bukan pula orang yang menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri dan keluarganya. Dia pun tidak menjadikan jabatan sebagai sarana untuk mengokohkan kekuasaan diri dan kelompoknya serta mengeksploitasi rakyat.<br />
Dari segi hak atas kekayaan, pemimpin sama saja dengan rakyat, tidak memiliki kelebihan apa pun. Dia hanya mendapatkan kompensasi yang layak sebagai ganti atas seluruh waktu dan perhatian yang dia curahkan untuk rakyat.<br />
Alkisah, pernah suatu ketika Khalifah Umar bin Khothob ditanya oleh seorang rakyatnya tentang baju yang dikenakannya yang berasal dari pembagian kain dari Yaman untuk seluruh rakyat. Maka amirul mukminin itu menyuruh anaknya, Abdullah bin Umar memberikan klarifikasi. Abdullah pun menjelaskan:<br />
“Sungguh ayahku [khalifah] mendapatkan bagian yang sama dengan kita semua, namun karena tubuhnya yang begitu besar, maka bagianku kuberikan padanya, agar dia bisa memakainya”<br />
Pemimpin yang amanah justru sibuk berfikir dan bertindak agar rakyatnya dapat hidup cukup sandang, pangan, papan, serta terjamin kesehatan, pendidikan dan keamanannya.<br />
Suatu ketika Khalifah Umar berkata, “Kalau sekiranya ada seekor keledai jatuh tergelincir di suatu jalan di Irak, aku khawatir nanti Allah akan menanyaiku, mengapa aku tidak menyediakan jalan yang rata di sana ”<br />
Kita semua sangat membutuhkan  model pemimpin seperti ini.     Wallohu a’lam***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ainkciamis.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ainkciamis.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ainkciamis.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ainkciamis.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ainkciamis.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ainkciamis.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ainkciamis.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ainkciamis.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ainkciamis.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ainkciamis.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=12&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/tanggung-jawab-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d7efdb879ff4e2e39712ce914b01a53?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ainkciamis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hati-hati Memilih Pemimpin</title>
		<link>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/hati-hati-memilih-pemimpin/</link>
		<comments>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/hati-hati-memilih-pemimpin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 04:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ainkciamis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ainkciamis.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang beriman yang menginginkan keridloan Alloh, maka akan selalu mengikatkan dirinya (pemikirannya, perasaanya dan setiap amal perbuatannya) pada hukum syara’ , yakni berdasarkan Al Qur’an &#38; As Sunnah (bukan azas manfaat atau pertimbangan logika semata). Demikian pula dalam persoalan memilih pemimpin.
Maka sangat tepat kalau kita berpedoman pada petunjuk Alloh swt, Dzat Maha Pengatur Kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=10&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setiap orang beriman yang menginginkan keridloan Alloh, maka akan selalu mengikatkan dirinya (pemikirannya, perasaanya dan setiap amal perbuatannya) pada hukum syara’ , yakni berdasarkan Al Qur’an &amp; As Sunnah (bukan azas manfaat atau pertimbangan logika semata). Demikian pula dalam persoalan memilih pemimpin.<br />
Maka sangat tepat kalau kita berpedoman pada petunjuk Alloh swt, Dzat Maha Pengatur Kehidupan ini. Berikut ini berberapa hujjah yang mengingatkan kita, apa akibatnya kalau kita tidak hati-hati atau salah memilih pimpinan:<br />
1.QS  al-Ahzab : 66-68<br />
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikan kami taat kepada Allah dan taat kepada Rosul. Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dg kutukan yg besar.<br />
<span id="more-10"></span><br />
Hikmah yang bisa kita renungkan dari ayat ini adalah sebuah peringatan bahwa Nasib manusia yang memberikan loyalitasnya pada pemimpin yang tidak mentaati Alloh dan Rosul-Nya (Menerapkan syariat Islam berdasarkan Al Qur’an &amp; As Sunnah) maka adzab Alloh telah menanti, muka mereka akan dibolak-balikkan sambil dibakar api neraka (mungkin seperti sate) dan saking kesalnya mereka meminta kepada Alloh agar pemimpin mereka diberi azab dua kali lipat dibandingkan mereka. Na’udzubillah&#8230;<br />
2.QS  al-Furqan : 27-29<br />
Dan (ingatlah) hari ketika orang dzalim menggigit dua tangannya (tanda menyesal) seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur&#8217;an ketika al-Qur&#8217;an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.  </p>
<p>3.QS al-Baqoroh: 166-167<br />
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.<br />
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: &#8220;Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.&#8221; Demikianlah Alloh memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.<br />
Berdasarkan Ayat di atas, maka yang akan terjadi di akhirat adalah penyesalan bagi siapapun yang telah memilih, mendukung dan mentaati  pemimpin atau para elit yang telah menyesatkan mereka, yaitu yang tidak menjalankan syari’at Alloh.<br />
Demikian pula antara pemimpin dan pengikutnya yang menyimpang dari hukum Alloh itu, di akherat nanti akan saling tuduh atau berlepas diri.<br />
Realitasnya saat ini mereka yang telah dipilih oleh rakyat ternyata  tidak menjalankan hukum-hukum sesuai dengan syari’at Alloh &amp; Rosul-Nya, mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan sebaliknya mengharamkan apa yang dihalalkan Alloh, mendzalimi rakyat yang telah sangat kesusahan serta memperkaya diri dan keluarganya.   Maka, sungguh malang nasib orang-orang yang memperkuat kekuasaan mereka, yaitu siapapun yang memilih atau loyal kepada  type pemimpin seperti ini.<br />
Lalu, apakah masih ada, pemimpin yang akan menjalankan hukum-hukum Alloh secara kaffah dan mengurus rakyatnya agar selamat dunia-akhirat..?, seperti yang dicontohkan oleh Rosul dan Khulafaur Rosyidin&#8230;?<br />
Inilah tugas kita kaum muslimin untuk menyeru wajibnya para pemimpin atau para elit agar menerapkan aturan yang diturunkan dari Alloh swt, bukan mengambil hukum buatan manusia semisal Demokrasi. Dan jalan terbaik bagi kita adalah sikap berhati-hati dan tunduk pada pedoman Alloh swt sesuai ayat-ayat di atas, yaitu menghindarkan diri untuk memilih pemimpin yang tidak menerapkan hukum Alloh,  agar tidak menyesal di akhirat nanti.<br />
Sabda Rosulullah saw:<br />
“Akan datang kepada kalian para penguasa, mereka mengucapkan janji-janji yang tidak mereka kerjakan dan melakukan apa yang mereka tidak ketahui. Barangsiapa yang menjadi penasihat, pembantu dan pemerkuat kekuasaannya, maka mereka akan binasa dan membinasakan.” (HR.Thobroni). ***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ainkciamis.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ainkciamis.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ainkciamis.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ainkciamis.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ainkciamis.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ainkciamis.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ainkciamis.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ainkciamis.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ainkciamis.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ainkciamis.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=10&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/hati-hati-memilih-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d7efdb879ff4e2e39712ce914b01a53?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ainkciamis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesombongan Menghancurkan Diri</title>
		<link>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/kesombongan-menghancurkan-diri/</link>
		<comments>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/kesombongan-menghancurkan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 04:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ainkciamis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ainkciamis.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[
Kesombongan merupakan salah satu kelemahan utama seorang manusia dan bisa terjadi pada siapa saja, kesombongan merupakan tabi’at syaithon yang diawali saat mereka menolak sujud kepada Adam as ketika diperintah Alloh swt.
Dalam keseharian kita sering mendengar, seorang suami marah, memaki atau memukul anak dan istrinya karena merasa dia yang memberikan makan mereka. Seorang atasan melakukannya dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=8&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>
Kesombongan merupakan salah satu kelemahan utama seorang manusia dan bisa terjadi pada siapa saja, kesombongan merupakan tabi’at syaithon yang diawali saat mereka menolak sujud kepada Adam as ketika diperintah Alloh swt.<br />
Dalam keseharian kita sering mendengar, seorang suami marah, memaki atau memukul anak dan istrinya karena merasa dia yang memberikan makan mereka. Seorang atasan melakukannya dengan mengancam bawahannya bahwa karirnya tergantung padanya. Penguasa melakukannya dengan mengancam para pengkritik kebijakannya. Seorang haji melakukannya dengan menyatakan bahwa keislamannya telah sempurna dengan berhaji, padahal Islam tidak hanya sekedar rukun Islam. Seorang Ustadz juga bisa melakukannya dengan mengatakan: “Itu orang kalau bukan karena saya nggak bakalan tobat!” Bahkan seorang pengemis-pun dapat melakukannya dengan membuang recehan yang kita berikan.<br />
<span id="more-8"></span><br />
Sesungguhnya kalau kita merenungkan diri kita sendiri  tidak ada yang patut disombongkan. Kita diciptakan dengan setetes “Air yang hina”, kita sendiri mungkin jijik memegang atau melihatnya. Mungkin semut saja yang senang mengerubutinya.<br />
Alloh swt berfirman:“(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina (mani)”. (Qs. As-Sajdah [32]: 7).<br />
Setelah kita utuh menjadi manusia, semua lubang pada diri kita merupakan tempat keluarnya kotoran; hidung, mata, telinga, mulut dan kedua lubang farji kita. Seolah-olah didalam tubuh kita dipenuhi oleh kotoran. Begitu juga setelah kita mati, jika dibiarkan seminggu saja menimbulkan bau busuk menyengat dan semua orang akan menutup hidungnya. Setelah dikuburkan akan dinikmati oleh cacing tanah dan belatung, bahkan sebagian orang takut melewati kuburan kita.<br />
Walhasil, Tidak ada yang patut disombongkan di dunia ini, harta, tahta (jabatan), wanita (keluarga), kecerdasan dan kecantikan merupakan kenikmatan sementara yang dipinjamkan Alloh swt kepada kita dan dapat diambil sewaktu-waktu oleh Alloh swt.<br />
Begitu banyak orang kaya dengan sekejap menjadi miskin karena tertimpa musibah banjir, kebakaran atau perampokan. Banyak pejabat penting dalam sekejap menjadi warga biasa dan dicerca karena dilengserkan atau aibnya terungkap. Banyak keluarga bahagia tiba-tiba menjadi sengsara karena keluarganya (anak, istri atau suami) meninggal atau bercerai. Betapa banyak orang yang cerdas tetapi umur 60 tahun sudah pikun. Sekian banyak artis cantik tetapi di usia senja wajahnya mulai keriput. Sangat mudah bagi Alloh swt untuk memberi atau mencabut kenikmatan itu.<br />
Salah satu ciri kesombongan adalah orang-orang yang tidak mau bersyukur atas nikmat yang diberikan Alloh swt kepadaNya. Kenikmatan itu sesungguhnya tidak melulu kekayaan semata, tetapi kesehatan, waktu luang, rezeki yang halal, rumah dekat mesjid, lingkungan aman, tetangga/teman yang baik, keluarga yang harmonis, anak yang cerdas atau istri sholihah, semuanya kenikmatan yang sering terlupakan oleh kita.<br />
Orang-orang yang sombong mereka tidak mau bersyukur atas nikmat yang diberikan Alloh swt, mereka merasa bahwa semua kesuksesan yang diperolehnya merupakan hasil jerih payahnya semata. Dia lupa bahwa semua yang dia peroleh merupakan pemberian Alloh swt, dari Dzat Yang Maha Rohman dan Rohim. Rasa syukur kepada Alloh swt dilakukan dengan menjalankan kewajiban ibadah, meninggalkan larangan/kemaksiaatan dan mematuhi semua yang diperintahkan Allo swt.<br />
Ciri kesombongan yang lain adalah menolak kebenaran yang disampaikan, sebagaimana sabda Nabi saw:<br />
Sesungguhnya Alloh itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. [HR Muslim].<br />
Alloh swt mengecam orang-orang yang berjalan dengan sombong di muka bumi, menolak kebenaran dan tidak mau bersyukur,<br />
“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.  (Qs. Luqman: 18).<br />
“Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertawakalah kepada Allah”. Bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (Qs. Al-Baqarah: 206).<br />
Akhirul kalam, tidak ada yang patut disombongkan di dunia ini karena semuanya titipan Alloh swt yang dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik seluruh alam. Dengan kesombongan, maka kita telah menghancurkan diri sendiri, kita dibenci oleh sesama manusia dan di akhirat menjadi orang yang merugi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ainkciamis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ainkciamis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ainkciamis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ainkciamis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ainkciamis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ainkciamis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ainkciamis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ainkciamis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ainkciamis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ainkciamis.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=8&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/25/kesombongan-menghancurkan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d7efdb879ff4e2e39712ce914b01a53?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ainkciamis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seputar Masalah Jilbab</title>
		<link>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/24/3/</link>
		<comments>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/24/3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 10:09:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ainkciamis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ainkciamis.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengantar
	Banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan “jilbab” adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam Al Qur`an surah An Nuur : 31 disebut dengan istilah “khimaar” (jamaknya : “khumur”). Adapun jilbab yang terdapat dalam surah Al Ahzab : 59, sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=3&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>1. Pengantar<br />
	Banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan “jilbab” adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam Al Qur`an surah An Nuur : 31 disebut dengan istilah “khimaar” (jamaknya : “khumur”). Adapun jilbab yang terdapat dalam surah Al Ahzab : 59, sebenarnya adalah baju yang longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah (bukan potongan).<br />
	Kesalahpahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana muslimah itu yang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah terusan atau potongan dianggap bukan masalah. Dianggap, model potongan oke-oke saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudah menutup aurat, dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu. Islam telah menetapkan syarat-syarat bagi busana muslimah dalam kehidupan umum, seperti yang ditunjukkan oleh nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah. Menutup aurat itu hanya salah satu syarat, bukan satu-satunya syarat. Syarat lainnya misalnya busana muslimah tidak boleh menggunakan bahan tekstil yang transparan atau mengekspolitir lekuk tubuh perempuan. Dengan demikian, walaupun menutup aurat tapi kalau mencetak tubuh alias ketat –atau menggunakan bahan tekstil yang transparan&#8211; tetap belum dianggap busana muslimah yang sempurna.<br />
<span id="more-3"></span><br />
	Karena itu, kesalahpahaman semacam itu perlu diluruskan, agar kita dapat kembali kepada ajaran Islam secara murni serta bebas dari pengaruh lingkungan, pergaulan, atau adat-istiadat sesat yang merajalela dan menggila di tengah masyarakat.  Memang, jika kita konsisten dengan Islam, terkadang terasa amat berat. Misalnya saja memakai jilbab (dalam arti yang benar). Di tengah maraknya berbagai mode busana wanita yang diiklankan trendi dan up to date, jilbab secara kontras jelas akan kelihatan ortodoks, kaku, dan kurang trendi (dan tentu, tidak seksi). Padahal, busana jilbab itulah pakaian yang benar bagi muslimah. Di sinilah kaum muslimah diuji. Di sini dia harus memilih, apakah dia akan tetap teguh mentaati ketentuan Allah dan Rasul-Nya, seraya menanggung perasaan berat hati namun berada dalam keridhaan Allah, atau rela terseret oleh bujukan hawa nafsu atau rayuan syaitan terlaknat untuk mengenakan mode-mode liar yang dipropagandakan kaum kafir dengan tujuan agar kaum muslimah terjerumus ke dalam dosa, kesesatan, dan kebejatan moral..<br />
	Berkaitan dengan itu, Nabi SAW pernah bersabda bahwa akan tiba suatu masa di mana Islam akan menjadi sesuatu yang asing –termasuk busana jilbab&#8211; sebagaimana awal kedatangan Islam. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh larut. Harus tetap memegang Islam, walaupun berat seperti memegang bara api. Dan insya Allah, dalam kondisi yang rusak dan bejat seperti ini, mereka yang tetap taat akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Bahkan dengan pahala lima puluh kali lipat daripada pahala para shahabat. Sabda Nabi SAW :</p>
<p>“Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim no. 145)</p>
<p>“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka ?” Rasululah SAW menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan)</p>
<p>2. Aurat  dan Busana Muslimah<br />
	Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakan masalah-masalah yang berbeda-beda. Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita. Kedua, busana wanita dalam kehidupan khusus (al hayah al khashshash), yaitu tempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram atau sesama wanita, seperti rumah-rumah pribadi. Ketiga, busana wanita dalam kehidupan umum (al hayah ‘ammah), yaitu tempat-tempat di mana wanita berinteraksi dengan anggota masyarakat lain secara umum, seperti di jalan-jalan, sekolah, pasar, kampus, dan sebagainya. Busana wanita muslimah dalam kehidupan umum inilah yang disebut dengan jilbab.</p>
<p>a. Aurat Wanita<br />
Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya.  Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang bukan mahram, meskipun cuma selembar.  Seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup.  Hal ini berlandaskan firman Allah SWT :</p>
<p>&#8220;Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.&#8221;  (QS An Nuur : 31)</p>
<p>Yang dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua telapak tangan.  Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan muslimah di hadapan Nabi SAW sedangkan beliau mendiamkannya.  Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan shalat.  Kedua anggota tubuh ini biasa terlihat di masa Rasulullah SAW, yaitu di masa masih turunnya ayat Al Qur`an.  Di samping itu terdapat alasan lain yang menunjukkan bahwasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan karena sabda Rasulullah SAW :</p>
<p>&#8220;(Seluruh tubuh) wanita itu adalah aurat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apabila seorang wanita telah baligh maka tidak boleh ia menampakkan (tubuhnya) kecuali wajahnya dan selain ini digenggamnya antara telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya.&#8221;</p>
<p>Nabi SAW pernah berkata kepada Asma` binti Abu Bakar :</p>
<p>&#8220;Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.&#8221; (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Inilah dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya.  Maka diwajibkan atas wanita untuk menutupi auratnya, yaitu menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.</p>
<p>b. Busana Wanita dalam Kehidupan Khusus<br />
Adapun dengan apa seorang muslimah menutupi aurat tersebut, maka di sini syara’ tidak menentukan bentuk/model pakaian tertentu untuk menutupi aurat, akan tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafadz dalam firman-Nya : “wa laa yubdiina” (Dan janganlah mereka menampakkan)  atau sabda Nabi SAW “lam yashluh an yura minha” (tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya). (QS An Nuur : 31). Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya.  Dengan mengenakan daster atau kain yang panjang juga dapat menutupi, begitu pula celana panjang, rok, kulot, dan kaos juga dapat menutupinya.  Sebab bentuk dan jenis pakaian tidak ditentukan oleh syara’.<br />
Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat, yaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar&#8217;i, tanpa melihat lagi bentuk, jenis, maupun macamnya.<br />
Namun demikian syara&#8217; telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit.  Jadi pakaian harus dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak diketahui.  Jika tidak demikian, maka dianggap tidak menutupi aurat.  Oleh karena itu apabila kain penutup itu tipis/transparan sehingga nampak warna kulitnya dan dapat diketahui apakah kulitnya berwarna merah atau coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup aurat.<br />
Mengenai dalil bahwasanya syara&#8217; telah mewajibkan menutupi kulit sehingga tidak diketahui warnanya, adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA bahwasanya Asma` binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi SAW dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah SAW berpaling seraya bersabda :</p>
<p>&#8220;Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak boleh baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini.&#8221; (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Jadi Rasulullah SAW menganggap kain yang tipis itu tidak menutupi aurat, malah dianggap menyingkapkan aurat.  Oleh karena itu lalu Nabi SAW berpaling seraya memerintahkannya menutupi auratnya, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi.<br />
Dalil lainnya juga terdapat dalam hadits riwayat Usamah, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi SAW tentang Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi SAW kepada Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian itu kepada isterinya, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya :</p>
<p>&#8220;Suruhlah isterimu melilitkan (kain lain) di bagian dalam kain tipis itu, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.&#8221;</p>
<p>Qibtiyah adalah sehelai kain tipis.  Oleh karena itu tatkala Rasulullah SAW mengetahui bahwasanya Usamah memberikannya kepada isterinya, beliau memerintahkan agar dipakai di bagian dalam kain supaya tidak kelihatan warna kulitnya dilihat dari balik kain tipis itu, sehingga beliau bersabda : &#8220;Suruhlah isterimu melilitkan (kain lain) di bagian dalamnya kain tipis.&#8221;<br />
Dengan demikian kedua hadits ini merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwasanya syara&#8217; telah mensyaratkan apa yang harus ditutup, yaitu kain yang dapat menutupi kulit.  Atas dasar inilah maka diwajibkan bagi wanita untuk menutupi auratnya dengan pakaian yang tidak tipis sedemikian sehingga tidak tergambar apa yang ada di baliknya.</p>
<p>c. Busana Wanita dalam Kehidupan Umum<br />
Pembahasan poin b di atas adalah topik mengenai penutupan aurat wanita dalam kehidupan khusus. Topik ini tidak dapat dicampuradukkan dengan pakaian wanita dalam kehidupan umum, dan tidak dapat pula dicampuradukkan dengan masalah tabarruj pada sebagian pakaian-pakaian wanita.<br />
Jadi, jika seorang wanita telah mengenakan pakaian yang menutupi aurat, tidak berarti lantas dia dibolehkan mengenakan pakaian itu dalam kehidupan umum, seperti di jalanan umum, atau di sekolah, pasar, kampus, kantor, dan sebagainya.  Mengapa ? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’.  Jadi dalam kehidupan umum tidaklah cukup hanya dengan menutupi aurat, seperti misalnya celana panjang, atau baju potongan, yang sebenarnya tidak boleh dikenakan di jalanan umum meskipun dengan mengenakan itu sudah dapat menutupi aurat.<br />
Seorang wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang dapat menutupi aurat. Namun  tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu  ia telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj).  Oleh karena itu walaupun ia telah menutupi auratnya, akan tetapi ia telah bertabarruj, sedangkan tabarruj dilarang oleh syara’.<br />
Pakaian wanita dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung). Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun binatang, atau di pasar-pasar.<br />
Apakah pengertian jilbab ? Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian (rumah), seperti milhafah/baju terusan), atau  “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar`ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).<br />
Jadi jelaslah, bahwa yang diwajibkan atas wanita adalah mengenakan kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab : milhafah/mula`ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya.<br />
Untuk baju atas, yaitu khimar, syariat telah  mewajibkan kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang  berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada.  Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum.<br />
Apabila ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum.  Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.<br />
Dalil mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung) :</p>
<p>&#8220;Hendaklah mereka mentutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.&#8221; (QS An Nuur : 31)</p>
<p>Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab) :</p>
<p>&#8220;Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu&#8217;min: &#8216;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.&#8221;  (QS Al Ahzab : 59)</p>
<p>Diriwayatkan dari Ummu &#8216;Athiah RA, bahwa dia berkata :</p>
<p>&#8220;Rasulullah SAW memerintahkan kami agar keluar (menuju lapangan) pada saat hari raya Iedul Fithri dan Iedul Adlha, baik ia budak wanita, wanita yang haidl, maupun yang perawan.  Adapun bagi orang-orang yang haidl maka diperintahkan menjauh dari tempat shalat, namun tetap boleh menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin.  Lalu aku berkata: Wahai Rasulullah SAW salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab.  Maka Rasulullah SAW menjawab: &#8216;Hendaklah saudaranya itu meminjamkan jilbabnya.&#8221;</p>
<p>Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum.  Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh.  Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu &#8216;Athiah RA di atas, yakni  kalau seorang wanita tak punya jilbab –untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum)—maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi SAW tidak akan  memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.<br />
	Untuk jilbab, disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terulur sampai ke bawah  sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan : “yudniina ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka.). (QS Al Ahzab : 59)<br />
Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah al irkha` ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Penafsiran ini diperkuat dengan  dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah SAW bersabda :</p>
<p>“Barang siapa yang melabuhkan/mengulurkan bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi SAW menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran).’ Ummu Salamah menjawab,’Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (dzira`an) dan jangan ditambah lagi.”</p>
<p>Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi SAW, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah  &#8211;yaitu jilbab&#8211; telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.<br />
Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan  Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan).(Lihat Taqiyudin An Nabhani, An Nizham Al Ijtima’I fil Islam, hal. 45-51)</p>
<p>3. Penutup<br />
	Dari penjelasan di atas jelas bahwa wanita dalam kehidupan umum wajib mengenakan baju terusan yang longgar yang terulur sampai ke bawah yang dikenakan di atas baju rumah mereka. Itulah yang disebut dengan jilbab dalam Al Qur`an.<br />
Jika  seorang wanita muslimah keluar rumah tanpa mengenakan jilbab seperti itu, dia telah berdosa, meskipun dia sudah menutup auratnya. Sebab mengenakan baju yang longgar yang terulur sampai bawah  adalah fardlu hukumnya. Dan setiap pelanggaran  terhadap yang fardlu dengan sendirinya adalah suatu penyimpangan dari syariat Islam di mana pelakunya dipandang berdosa di sisi Allah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ainkciamis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ainkciamis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ainkciamis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ainkciamis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ainkciamis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ainkciamis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ainkciamis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ainkciamis.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ainkciamis.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ainkciamis.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ainkciamis.wordpress.com&blog=5465349&post=3&subd=ainkciamis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ainkciamis.wordpress.com/2008/11/24/3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d7efdb879ff4e2e39712ce914b01a53?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ainkciamis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>