Mencegah Kemaksiyatan

Setiap perbuatan yang melanggar hukum syara’ adalah kemaksiatan. Dan setiap kemaksiatan pasti akan merugikan diri orang yang berbuat dan juga membahayakan diri orang lain. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori, Rosulullah meng-umpamakan Perbuatan Maksiat itu ibarat perbuatan melubangi kapal;

“Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Alloh adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah perahu. Lalu, mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian lagi di bagian bawah. Bila ada orang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di atasnya. Sehingga, orang yang di bawah itu berkata, ‘Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain yang di atas.’ Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari).
Baca entri selengkapnya »

Tidak Berputus Asa

Suatu hari di Kota Thoif, pada saat itu Rosulullah saw sedang melakukan upaya tholabun nusyroh (yaitu mencari pertolongan dan dukungan) kepada komunitas Thoif, dekat Makkah. Beliau mengharapkan mereka masuk Islam. Sementara itu, tekanan kaum kafir kepada kaum muslimin sangat berat karena penyebaran dakwah Islam di Makkah berkembang pesat.
Tetapi, upaya Rosulullah mengalami kegagalan. Bahkan sebagai balasannya justru olok-olok anak-anak kecil dan orang-orang bodoh yang beliau terima. Mereka melempari Rosulullah dengan batu, diiringi cacian dan hardikan. Tak ada jalan lain kecuali menyelamatkan diri. Saat itu, Rosulullah terluka. Peluh menetes, napas yang tersengal-sengal, dan pakaian yang kotor serta kaki yang berdarah.
Baca entri selengkapnya »

Tegar Dalam Kebenaran

Diriwayatkan dari Abu Umamah Shuday r.a menyatakan bahwa Rosulullah saw bersabda:

”Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Alloh melebihi dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Alloh dan tetesan darah yg menetes sewaktu berjuang pada jalan Alloh. Adapun dua bekas itu, yaitu bekas luka sewaktu berjuang di jalan Alloh dan bekas dari menjalankan salah satu kewajiban-kewajiban Alloh” (HR Turmuzi).

Saking pentingnya takut kepada Alloh tersebut, Rosulullah menyatakan, ”Seseorang yang menangis karena takut kepada Allah itu tidak akan masuk neraka hingga air susu itu kembali ke dalam tetek. Debu yang menempel karena berjuang pada jalan Alloh itu tidak akan bisa berkumpul dengan asap neraka jahanam” (HR Turmuzi).
Baca entri selengkapnya »

Tanggung Jawab Pemimpin

Rosulullah saw bersabda:
Ingatlah, setiap diri kalian adalah penggembala; setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban atas yang digembalakannya. Karena itu, seorang penguasa yang menjadi pemelihara atas rakyat adalah penggembala; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. (HR Bukhari).
Konsep kepemimpinan yang ditawarkan oleh Rosulullah ternyata cukup sederhana, namun sarat dengan makna: yakni Pemimpin itu di-ibaratkan seorang penggembala. Pada galibnya penggembala itu semestinya bertanggung jawab agar hewan-hewan yang digembalakannya terpelihara dengan baik, cukup makan dan minum, sehat, gemuk, serta terjaga dari binatang-binatang buas. Sebab, ia bakal ditanya oleh tuannya tentang hewan-hewan yang digembalakannya itu
Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau ada penggembala yang cuek dengan hewan-hewan piaraannya. Atau dia lebih mengutamakan dirinya sendiri, sementara hewan-hewan yang menjadi tanggungjawabnya kehausan, kelaparan, terancam, cedera, bahkan mati.
Baca entri selengkapnya »

Hati-hati Memilih Pemimpin

Setiap orang beriman yang menginginkan keridloan Alloh, maka akan selalu mengikatkan dirinya (pemikirannya, perasaanya dan setiap amal perbuatannya) pada hukum syara’ , yakni berdasarkan Al Qur’an & As Sunnah (bukan azas manfaat atau pertimbangan logika semata). Demikian pula dalam persoalan memilih pemimpin.
Maka sangat tepat kalau kita berpedoman pada petunjuk Alloh swt, Dzat Maha Pengatur Kehidupan ini. Berikut ini berberapa hujjah yang mengingatkan kita, apa akibatnya kalau kita tidak hati-hati atau salah memilih pimpinan:
1.QS al-Ahzab : 66-68
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikan kami taat kepada Allah dan taat kepada Rosul. Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dg kutukan yg besar.
Baca entri selengkapnya »

Kesombongan Menghancurkan Diri

Kesombongan merupakan salah satu kelemahan utama seorang manusia dan bisa terjadi pada siapa saja, kesombongan merupakan tabi’at syaithon yang diawali saat mereka menolak sujud kepada Adam as ketika diperintah Alloh swt.
Dalam keseharian kita sering mendengar, seorang suami marah, memaki atau memukul anak dan istrinya karena merasa dia yang memberikan makan mereka. Seorang atasan melakukannya dengan mengancam bawahannya bahwa karirnya tergantung padanya. Penguasa melakukannya dengan mengancam para pengkritik kebijakannya. Seorang haji melakukannya dengan menyatakan bahwa keislamannya telah sempurna dengan berhaji, padahal Islam tidak hanya sekedar rukun Islam. Seorang Ustadz juga bisa melakukannya dengan mengatakan: “Itu orang kalau bukan karena saya nggak bakalan tobat!” Bahkan seorang pengemis-pun dapat melakukannya dengan membuang recehan yang kita berikan.
Baca entri selengkapnya »

Seputar Masalah Jilbab

1. Pengantar
Banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan “jilbab” adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam Al Qur`an surah An Nuur : 31 disebut dengan istilah “khimaar” (jamaknya : “khumur”). Adapun jilbab yang terdapat dalam surah Al Ahzab : 59, sebenarnya adalah baju yang longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah (bukan potongan).
Kesalahpahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana muslimah itu yang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah terusan atau potongan dianggap bukan masalah. Dianggap, model potongan oke-oke saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudah menutup aurat, dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu. Islam telah menetapkan syarat-syarat bagi busana muslimah dalam kehidupan umum, seperti yang ditunjukkan oleh nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah. Menutup aurat itu hanya salah satu syarat, bukan satu-satunya syarat. Syarat lainnya misalnya busana muslimah tidak boleh menggunakan bahan tekstil yang transparan atau mengekspolitir lekuk tubuh perempuan. Dengan demikian, walaupun menutup aurat tapi kalau mencetak tubuh alias ketat –atau menggunakan bahan tekstil yang transparan– tetap belum dianggap busana muslimah yang sempurna.
Baca entri selengkapnya »